Kamis, 24 November 2016

makalah akhlak tasawuf



AKHLAK ISLAM
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Akhlak Tasawuf
DosenPengampu: Dr. H. Djasadi, M.Ag
Oleh:
1)     Ida Arofa                                (1401016024)
2)     Lila Sahula Nurrizky            (1401016033)

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015



BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan zaman, terdapat suatu kontradiksi yang mencolok  antara kemajuan sektor teknologi di suatu pihak dan kemerosotan akhlak di pihak lainya. Bukan hal aneh bila berita-berita dalam media massa seperti koran, majalah, hampir tiap hari memuat kejadian-kejadian yang menegangkan, baik yang terjadi dalam negri ataupun dari luar negeri. Misalnya, perampokan, penodongan, pembunuhan, pemerkosaan, narkoba, korupsi yang merajarela.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami dan menyempurnakan akhlak orang Islam, yaitu dengan cara mempelajari dan mengamalkan akhlak Islami.
Pembahasan akhlak Islami sangat komperhensif, menyeluruh dan mencakup  keseluruhan aspek kehidupan. Akhlak  Islami itu jauh lebih sempurna di bandingkan etika dan moral. Jika etika dan moral hanya berbicara hubungan dengan manusia maka akhlak Islami berbicara pula tentang cara berhubungan dengan khalik,  sesama manusia dan lingkungan.
Oleh karena itu, manusia (khususnya yang beriman kepada Allah), diminta agar akhlak dan keluhuran perilaku Nabi Muhammad dijadikan contoh dalam kehidupan di berbagai bidang. Sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
II. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai :
1. Apa Pengertian Akhlak Islami?
2. Apa Saja Sumber dan Ciri-ciri Akhlak Islami?
3. Bagaimana Ruang Lingkup Akhlak Islami?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Pengertian akhlak islam ialah tingkah laku manusia yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan, ucapan dan pikiran yang sifatnya membanngun, tidak merusak lingkungan dan tidak pula merusak tatanan sosial budaya dan tidak pula bertentangan dengan ajaran agama Islam, namun berlandaskan Alqur’an dan Hadis.[1]
Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja, mendarah daging dan   sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun, dalam rangka penjabaran akhlak Islam yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusiadan kesempatan sosial yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.[2]
Jadi akhlak Islam adalah akhlak yang berdasarkan ajaran Islam atau akhlak yang bersifat Islami. Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting secara individu maupun sebagai anggota masyarakat. Pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia ini, maka Allah mengutus Muhammad untuk menyempurnakan akhlak. Nabi bersabda: sesungguhnya aku diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.
Di sebut dalam Al-Qur’an bahwa Nabi memiliki akhlak yang agung. Di ayat yang lain disebut sebagai suri tauladan yang baik.
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}(الأحزاب/21

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap ( rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut nama Allah. (Q.S. Al-Ahzab (33):21)
Sebaik-baik manusia yaitu yang mengandung tiga unsur pokok, yaitu:
1.      Manusia sebagai makhluk Allah
2.      Manusia bertanggung jawab kepada Allah
3.      Manusia mengabdi hanya kepda Allah
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat penting baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan bangsa. Apabila akhlak baik maka akan sejahtera lahir batin. Akan tetapi , bila akhlaknya buruk maka buruklah lahir batinya.

B.     Sumber Akhlak Islam
Sumber akhlak islam adalah Al-Qur’an dan Hadis. Sebgai sumber akhlak Islam Al-Qur’an dan Hadis menjelaskan bagaimana cara berbuat baik. Atas dasar itulah keduanya menjadi  landasan dan sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yang baik dan yang buruk.[3]
Kita telah mengetahui bahwa akhlak islam adalah merupakan system moral/akhlak yang   berdasarkan islam, yakni bertitik tolak dari akidah yang diwahyukan  Allah pada nabi/Rasul-Nya yang kemudian agar disampaikan kepada umatnya.
   Memang sebagaimana disebutkan terdahulu bahwa secara umum akhlak/moral terbagi atas moral yang berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan dan kehidupan akhirat dan  kedua moral yang sama sekali tidak berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan, moral ini timbul dari sumber-sumber sekuler.
  Akhlak islam, karena merupakan system akhlak yang berdasarkan kepercayaan      kepada Tuhan, maka tentunya sesuai pula dengan dasar daripada agama itu sendiri.Dengan demikian, dasar/sumber pokok daripada akhlak islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang merupakan sumber utama dari agama islam itu sendiri.[4]
Dasar akhlak yang dijelaskan dalam (Q.S Al Ahzab:21) dan (Q.S Al-Qolam:4)
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}(القلم/4)
Artinya: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti (akhlak) yang agung.
Konsep dasar akhlak Islami menurut ajaran islam adalah sebagai berikut:
1.      Tujuan hidup setiap muslim ialah mengharamkan segala minuman dan makanan yang di larang Agama, tunduk dan taat menjalankan syariat Allah dan mengharapakan keridhoan-Nya.
2.      Berkeyakinan terhadap kebenaran wahyu Allah dan Sunnah .
3.      Berkeyakinan terhadap ahri pembalasan, mendorong manusia berbuat baaik dan berusaha menjadi manusia sebaik-baiknya(akhlakul karimah) .
4.      Berbuat baik, mencegah segala kemungkaran yang bertentangan dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.
5.      Ajaran akhlak dalam Islam meliputi segaala kehidupan manusia berasas pada kebaikan dan bebas dari kejahatan.
Akhlak Islami memperhatiakan secara komperhensif, mencakup berbagai makhluk ciptaan Tuhan. Dasar akhlak Islami jauh lebih sempurna, ia mencakup hubungan dengan manusi, hubungan dengan binatang, tumbuhan, udara, alam, dan kepada Tuhannya.[5]

C.     Ciri-ciri akhlak islam
Dalam ajaran Islam memelihara terhadap sifat terpuji. Dan ada ciri-ciri akhlak islamiyah yaitu:
1.      Kebajikan yang mutlak
Islam menjamin kebajikan mutlak.Karena Islam telah menciptakan akhlak yang luhur.Ia menjamin kebaikan yang murni baik untuk perorangan atau masyarakat pada setiap keadaan, dan waktu.
2.      Kebaikan yang menyeluruh
Akhlak islami menjamin kebaikan untuk seluruh manusia.Baik segala jaman, semua tempat, mudah tidak mengandung kesulitan dan tidak mengandung perintah berat yang tidak dikerjakan oleh umat manusia di luar kmampuannya
3.      Kemantapan
Akhlak Islamiayah menjamin kebaikan yang mutlak dan sesuai pada diri manusia.Ia bersifat tetap, langgeng dan mantap, sebab yang menciptakan Tuhan yang bijaksana, yang selalu memliharanya dengan kebaikan yang mutlak.
4.      Kewajiban yang dipatuhi
Akhlak yang bersumber dari agama Islam wajib ditaati manusia sebab ia mempunyai daya kekuatan yang tinggi menguasai lahir batin dan dalam keadaan suka dan duka, juga tunduk pada kekuasaan rohani yang dapat mendorong untuk tetap berpegang kepadanya.
5.      Pengawasan yang menyeluruh
Agama islam adalah pengawas hati nurani dan akal yang sehat.[6]
D.    Ruang Lingkup Akhlak Islam
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran Islam itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/Islami) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa). Berbagai bentuk dan ruang lingkup akhlak Islami yang demikian itu dapat dipaparkan sebagai berikut.[7]
1.      Akhlak Manusia Sebagai Hamba Allah
Akhlak terhadap Allah dapat di artikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya di lakukan oleh manusia sebagai makhluk , kepada Allah sebagai Kholiq. 4 alasan mengapa manusia perlu berakhlak terhadap Allah, yaitu karena :
a. Allah yang telah menciptakan manusia
b. Allah yang memberikan pancaindra
c. Allah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang di perlukan bagi kelangsungan hidup manusia.
d. Allah yang telah memulyakan manusia dengan di berikan kemampuan menguasai daratan dan lautan.[8]
Quraish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kkesadaran bahwa tiada Tuhan selain Allah. Oleh sebab itu manusia sebgai hamba Allah mempunyai cara-cara tepat untuk mendekatkan diri yaitu:
a.       Mentauhidkan Allah, seperti dalam firman Allah
{لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ}(الأنعام/163
Artinya: “Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (Q.S. Al-An’am (6): 163)
b.      Beribadah kepada Allah, seperti dalam firman Allah
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَاي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}(الأنعام/162).
Artinya: Katakanlah: “Sesungguhnya sehatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-An’am (6): 162)
c.       Bertakwa kepada Allah, seperti dalam firman Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة
Artinya:”Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu” (Q.S. An-Nisa’ (4): 1)ٍ
d.      Berdoa khusus kepada Allah, seperti dalm firman Allah
رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ}(الأعراف/55{ادْعُوا
Artinya : “ Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesugguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (Q.S. Al-A’rof (7): 55)
e.       Zikrullah, seperti dalm firman Allah
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا}(الأحزاب/41).
Artinya : “  Hai orang-orang yang beriman, ingatlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyak.
f.       Bertawakal, seperti dalm firman Allah
{فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ}(النمل/79).
Artinya : “ Sebab itu bertawakalah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata
g.      Bersabar
Sabar artinya tahan menderita dari hal-hal yang negatif atau karena hal-hal yang positif. Ali bin Abi Thalib berkata: “ Sabar itu ada dua, sabar atas apa-apa yang tidak egkau sukai dan kau sukai “
Sabar juga dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.      Sabar meninggalkan larangan Agama
2.      Sabar menjalankan perintah Allah
3.      Sabar menerima ujian dan cobaan dari Allah.
h.      Bersyukur kepada Allah ( mensyukuri atas semua nikmat Allah)[9]
2.      Akhlak Muhammad kepada Allah
Dikala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahir kedunia seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia yakni Muhammad SAW, untuk memperbaiki dan menyempurnakan Ahlak.
Beliau tumbuh sebagai contoh keutamaan akhlak yang encapai puncak kesempurnaan. Kemudian Allah memilihnya untuk di angkat menjadi Nabi dana Rasul untuk menegakkan kebenaran, agar manusia berakhlak seperti beliau.
Muhammad yang selalu berakhlak Islam selalu memohon kepada Allah, memunajatkan doa kepa Allah untuk umatnya. Ya Allah, ampuni dosa umatku karena mereka tidak tahu. Pribadi Muhammd SAW merupakan contoh teladan yang baik untuk segenap pemeluk Agam Islam.
3.      Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Islam memerintahkan pemeluknya untuk menunaikan hak-hak pribadinya dan berlaku adil terhadap dirinya. Akhlak terhadap sesama manusia merupakan sikap seseorang terhadap orang lain. Sikap tersebut harus dikembangkan sebagai berikut.
a.       Menghormati perasaan orang lain.
b.      Memberi salam dan menjawab salam dengan memperlihatkan muka manis, mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri, menyenangi kebaikan.
c.       Pandai berterima kasih.
d.      Memenuhi janji.
e.       Tidak boleh mnegejek
f.       Jangan mencari kesalahan-kesalahan ornag lain.
g.      Jangan menawar sesuatu yang sedang di tawar orang lain`
Adapun akhlak terhadap  sesama manusia dapat diperincikan sebagai berikut:
1)      Akhlak sebagai anak.
Bahwasanya anak dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan fitrah. Orang tua lah yang menjadikan anaknya muslim, yahudi, nasrani atau majusi. Al Ghazali memberikan pandangan bahwa sesungguhnya seseorang itu diciptakan Allah dapat menerima kelebihan dan kekurangannya. Al Ghazali mengemukakan metode mendidik anak dengan memberi contoh, latihan, kebiasaan, nasehat, dan anjuran sebagai alat pendidikan dalam rangka membina kepribadian anak sesuai dengan ajaran agama Islam.
Terhadap anak membentuk akhlakul karimah tidak langsung jadi. Maka dari itu anak-anak haruslah dibiasakan secara terus menerus dan mengajari akhlakul karimah sebagai berikut.
a.       Melarang berbuat syirik
b.      Membiasakan berbakti kepada orang tua
c.       Mengajak anak mendirikan shalat, beramar ma’ruf nahi munkar dan sabar
d.      Melarang berlaku sombong, angkuh dan membanggakan diri
e.       Sopan santun dalam berjalan dan berbicara
Jadi, pembinaan pribadi anak menuju akhlakul karimah adalah dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan yang dipadukan sehingga terwujudlah sikap mental anak dan kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama.
2)      Akhlak kepada Ayah, Ibu, dan Orang Tua
Sebagai seorang anak, wajib berbakti kepada orang tua, setelah takwa kepada Allah. Karena itu, anak wajib menghormati, menjunjung tinggi titahnya, mencintai mereka dengan ikhlas, berbuat baik kepada mereka, lebih-lebih bila usia mereka telah lanjut. Jangan sekali-kali melaknati orang tua sendiri, kecuali dia anak durhaka. Maka dari itu, dalam pertengkaran mulut janganlah sekali-kali membawa nama orang tua, ini suatu pantangan besar, sebab berakibat telah mengutuki orang tua sendiri, sekalipun sebenarnya yang mengutuki itu orang lain tetapi akibat tindakannya, berarti dia sendiri yang mengutuki orang tuanya sendiri. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada umat manusia untuk bertindak sopan terhadap keduanya:
1.      Menaati keduanya dalam segala perintah dan larangan
2.      Berkata lembut dan mulia kepada Ibu dan Bapak
3.      Berkata sopan dan santun dengan merendahkan diri terhadap ibu dan bapak
4.      Harus didahulukan panggilan ibu dan bapak
3)      Akhlak terhadap Saudara
Dalam pandangan Islam, berbuat santun terhadap saudara harus sama sebagai mana santun kepada orang tua dan anak. Misalnya seorang adik harus sopan kepada kakaknya.
Akhlak yang perlu dilakukan terhadap saudara adalah sebagai berikut:
1.      Adil terhadap saudara
2.      Mencintai saudara
3.      Jangan su-uzhan
4)      Akhlak terhadap tetangga
Kedudukan tetangga jauh lebih besar dan utama jika dibandingkan sanak famili yang jauh tempat tinggalnya. Karena tetanggalah yang pertama menolong, bila dalam keadaan kesulitan.
Jangan pernah merasa iri bila tetangga mendapat kemujaran dan jangan biarkan ia tanpa pertolongan dikala bencana menimpanya atau melandanya. Lupakan kesalahanya, maafkan dosa-dosanya, perlakukan ia dengan sabar bila ia menggangu atau menyakiti hati. Rosulullah:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia memuiakan (menghormati) tetanngga .( H.R Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam ajaran Islam  cara ber-akhlakul karimah terhadap tetangga diantaranya sebagai berikut :
·         Dilarang menyakiti hati tetangga, baik dengan ucapan atau perbuatan.
·         Berbuat baik kepada tetangga.
·         Menolongnya jika memihon pertolongan.
·         Menengok jika sakit.
·         Mengucapakn selamat jika mendapatkan kebahagiaan
·         Saling memberi, walau hanaya sedikit.
5)      Akhlak kepada lingkungan masyarakat
Akhlakul karimah yang diajarkan dalam Islam terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah.
          Lingkungn yang paling dekat adalah tetangga, lingkungan sekolah, lingkungan tempat kerja, lingkunagan organisasi dan jamaah. Lingkungan jauh dan luas adalah lingkungan masyarakat. Dalam pergaulan masyarakat ditentukan tata cara bermasyarakat agar tidak terjadi salah pengertian sehingga timbul hak dan kewajiban. Ada beberapa hak dan kewajiban yang wajib dilakukan, yaitu:
·         Menunjukkan wajahnya yang jernih dan hati yang suci terhadap mereka.
·         Tidak menyakiti baik dengan lisan maupun dengan perbuatan.
·         Menghormati dan tegang rasa terhadap mereka.
·         Memberi pertolongan apabila mereka membutuhkan.
Akhlakul karimah berdasarkan kaidah islam dalam pergaulan masyarakat landasannya adalah sebagai berikut:
·         Berbahasa baik dan benar.
·         Mengucapkan saalam.
·         Wajib memperhatikan tata cara makan dan minum.
·         Menyesuikan diri dimajlis pertemuan.
·         Wajib meminta izin masuk baik di rumah orang atau di lainya.
·         Berkelakuan dengan sopan.
·         Menjenguk orang sakit
·         Bertakziah menyelenggarakan jenazah
Untuk meningkatkan hubungan baik terhadap lingkungan masyarakat tempat kita tinggal, yang wajib dilaksanakan sebagai anggota masyarakat adalah sebagai berikut:
a.       Ukhuwah  dan persaudaraan
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ}(الحجرات/10).
Artinya : sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antatra kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat rahmat.
b.      Tolong -menolong.
{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}(المائدة/2).
Artinya :  Dan tolong mrnolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam kejelekan......(Q.S Al-Maidah: 2)
c.       Musyawarah
4.      Akhlak Sebagai Pemimpin
Akhlak pemimpin yang baik adalah
1.      Shiddiq
2.      Amanah
3.      Tabligh
4.      Fathanah
Menurut konsep akhlakul karimah, prinsipnya setiap umat perlu menghiasi diri dengan akhlak yang baik  dan menjauhi dari akhak yang akhlaqul madzmumah.  Maka dari itu pemimpin harus mepunyai sifat-sifat kepemimpinan sebagai berikut:
ü  Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
ü  Setia pada Pancasila dan Revolusi
ü  Berwibawa, jujur, cakap, ahli dalam bidangnya, adil, mendapat dukungan dari rakyat.
5.      Akhlak kepada Alam Sekitarnya.
Ada kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya. Ini di dasarkan kepada hal-hal berikut:
v  Bahwa manusia hidup dan mati berada di alam.
v  Bahwa alam merupakan salah satu hal pokok yang di bicarakan dalam Al-Qur’an.
v  Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menjaga pelestarian alam yang bersifat umum dan yang khusus.
v  Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk memanfaatkan alam yang sebesar-besarnya
v  Manusia berkewajiban mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan di muka bumi.
Untuk itu manusia harus menjaga keharmonisan hubungannya dengan alam dan makhlik sekitarnya, yaitu dengan cara berakhlak yang baik kepadanya. Al-Qur’an menjelaskan
{مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ}(الحشر/5).
Artinya : Apa saja yang kamu tebang dari pohon kami (milik ora g-orang kafir)atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri diatas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah.[10]













KESIMPULAN

Ajaran Islam yang paling mendasar adalah keluhuran akhlak. Sifat ini banyak menentukan karakter seseorang, khususnya  dalam pergaulan kemasyarakatan. Seeorang yang berahlak rendah, ia dibenci dan di asingkan dari masyarakat. Sebaliknya, ia dihargai, dihormati, disegani, bahkan menjadi panutan masyarakat apabila ia berakhlak mulia.
Keberadaan dan kehancuran suatu umat di tentukan oleh akhlak itu sendiri. Seperti apa yang dikatakan seorang penyairkenamaan Syauqi Bay dari Mesir “ suatu umat akan abadi dan jaya, bila akhlak masih ada pada padanya. Umat itu akan hancur, binasa bila akhlakul karimah tidak ada”.
Lebih ditegaskan Rosulullah SAW “ Sebaik-baik diantaramu, yaitu lebih baik akhlaknya “(H.R Asy-Syaikhan)..
Akhlak islam dalam jiwa manusia dapat diwujudkan dalam suasana mawadah, rahmah, dan ukhuwah islamiyah. Oleh karena itu , ukuran dan barometer kehidupan manusia sehari-hari adalah akhlakul karimah.

















DAFTAR PUSTAKA

1.      Abdullah, Yatimin, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta: Amzah, 2007.
2.      Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Rajawali Pers, 2014.


[1] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta, Amzah, 2007, hlm. 196
[2] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta, Rajawali Pers, 2014, hlm. 125
[3] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta, Amzah, 2007, hlm. 197-198
[5] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta, Amzah, 2007, hlm. 199
[7] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta, Rajawali Pers, 2014, hlm. 126
[9] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta, Amzah, 2007, hlm. 200-210
[10] Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta, Amzah, 2007, hlm. 210-231

Tidak ada komentar:

Posting Komentar